
ihk.fis.ung.ac.id- Keberagaman etnis, budaya, dan aktivitas perdagangan di Pasar Bersehati, Kota Manado, Sulawesi Utara, menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Gorontalo. Melalui kegiatan Studi Kewargaan Multikultural, mahasiswa turun langsung mengamati bagaimana masyarakat dengan latar belakang berbeda membangun hubungan ekonomi dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Mengusung tema “Integrasi Ekonomi dan Komunikasi Interkultural Lintas Etnis di Ruang Publik,” kegiatan ini diarahkan untuk mempertemukan pemahaman akademik mahasiswa dengan realitas kehidupan masyarakat multikultural. Pasar Bersehati dipilih karena karakteristiknya yang mempertemukan pedagang dan pembeli dari berbagai kelompok etnis, di antaranya Minahasa, Gorontalo, Jawa, dan Bugis.
Di tengah aktivitas perdagangan, mahasiswa mengamati beragam bentuk interaksi sosial yang berlangsung secara alami. Perbedaan bahasa, kebiasaan, hingga jenis komoditas yang diperjualbelikan menjadi bagian dari dinamika kehidupan pasar. Keberadaan produk pangan halal dan nonhalal juga memperlihatkan bagaimana kebutuhan masyarakat dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda hadir dalam satu lingkungan ekonomi.
Kondisi tersebut menjadikan Pasar Bersehati menarik untuk dikaji dari perspektif kewargaan multikultural. Pasar tidak hanya berfungsi sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi juga menjadi ruang komunikasi lintas etnis, tempat masyarakat membangun hubungan, menyesuaikan diri, dan menjalankan aktivitas ekonomi di tengah keberagaman.
Mahasiswa PPKn UNG, Rahmatia Lajiji, menilai bahwa pengalaman mengamati aktivitas masyarakat di Pasar Bersehati memberikan pemahaman yang lebih nyata mengenai hubungan antara keberagaman dan integrasi ekonomi. Menurutnya, aktivitas perdagangan memperlihatkan bahwa masyarakat dari latar belakang berbeda memiliki ruang untuk saling berinteraksi dan membangun hubungan berdasarkan kebutuhan bersama.
“Di Pasar Bersehati, kami melihat bagaimana pedagang dari berbagai etnis menjalankan aktivitas ekonomi dalam ruang yang sama. Perbedaan bahasa, budaya, dan jenis dagangan tidak menghalangi mereka untuk berinteraksi. Dari pengalaman ini, saya memahami bahwa integrasi ekonomi juga dibangun melalui komunikasi dan hubungan saling membutuhkan antarmasyarakat,” ungkap Rahmatia.
Sementara itu, Rifki A. Mohamad, mahasiswa PPKn UNG yang turut mengikuti kegiatan tersebut, memberikan perhatian pada pola komunikasi yang terbentuk antara pedagang dan pembeli. Menurutnya, interaksi sederhana dalam aktivitas jual beli menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana komunikasi interkultural berlangsung dalam kehidupan masyarakat.
“Hal yang menarik bukan hanya keberagaman etnis para pedagang, tetapi bagaimana mereka berkomunikasi dan membangun hubungan dengan pembeli. Kami belajar bahwa komunikasi lintas budaya tidak selalu berlangsung dalam situasi formal. Justru melalui percakapan sederhana, proses tawar-menawar, dan aktivitas jual beli, kita dapat melihat bagaimana masyarakat membangun pemahaman di tengah perbedaan,” jelas Rifki.
Pengamatan mahasiswa juga diarahkan untuk memahami bagaimana kepentingan ekonomi dapat mempertemukan kelompok masyarakat tanpa mengharuskan mereka meninggalkan identitas budayanya. Dalam aktivitas pasar, hubungan antaretnis tidak hanya terlihat dari keberadaan berbagai kelompok pedagang, tetapi juga dari proses komunikasi, kerja sama, dan interaksi yang berlangsung setiap hari.
Dosen pendamping, Yayan Sahi, S.Pd., M.Pd., menekankan bahwa kegiatan Studi Kewargaan Multikultural merupakan bagian dari penguatan pembelajaran PPKn yang berorientasi pada pengalaman langsung. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan memahami kehidupan multikultural secara lebih luas, termasuk melihat bagaimana hubungan ekonomi dapat menjadi salah satu ruang terbentuknya integrasi antarkelompok masyarakat.
“Pasar merupakan salah satu ruang publik yang menarik untuk mengkaji praktik kewargaan multikultural. Di dalamnya terdapat perjumpaan berbagai identitas etnis, kepentingan ekonomi, dan pola komunikasi yang berbeda. Melalui pengamatan langsung, mahasiswa dapat memahami bahwa integrasi ekonomi dan komunikasi interkultural memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat yang majemuk,” ujar Yayan.
Lebih lanjut, Yayan menjelaskan bahwa keberagaman tidak cukup dipahami hanya dari banyaknya kelompok etnis yang berada dalam satu lingkungan. Mahasiswa juga perlu mencermati bagaimana hubungan antarkelompok berlangsung, bagaimana perbedaan dihadapi, serta bagaimana komunikasi dan kepentingan ekonomi memungkinkan masyarakat membangun kerja sama.
“Kami ingin mahasiswa memiliki kemampuan membaca realitas sosial secara kritis. Mereka tidak hanya mengidentifikasi keberagaman, tetapi juga menganalisis bagaimana interaksi lintas etnis berlangsung dan bagaimana aktivitas ekonomi dapat menjadi ruang integrasi masyarakat. Inilah pentingnya studi kewargaan multikultural, agar pemahaman mahasiswa tidak berhenti pada konsep, tetapi berangkat dari kenyataan yang mereka amati sendiri,” tambahnya.
Dalam konteks Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, kegiatan ini memiliki relevansi dengan penguatan pemahaman mahasiswa mengenai nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman yang ditemukan di Pasar Bersehati memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana perbedaan identitas hadir dalam hubungan sosial dan ekonomi, sekaligus menjadi bahan refleksi mengenai pentingnya toleransi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap sesama warga negara.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas pendekatan pembelajaran PPKn melalui pemanfaatan lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui literatur dan diskusi akademik, tetapi juga berkesempatan mengembangkan kemampuan observasi, kepekaan sosial, dan analisis terhadap fenomena kewarganegaraan yang dijumpai secara langsung.
Bagi calon pendidik PPKn, pengalaman tersebut memiliki arti penting dalam membangun perspektif pembelajaran yang lebih kontekstual. Pemahaman mengenai multikulturalisme akan lebih bermakna apabila dikaitkan dengan pengalaman nyata masyarakat, termasuk bagaimana perbedaan etnis dan budaya berinteraksi dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Melalui Studi Kewargaan Multikultural di Pasar Bersehati Manado, mahasiswa PPKn UNG diharapkan mampu melihat integrasi ekonomi dan komunikasi interkultural sebagai bagian dari dinamika kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Pengalaman ini sekaligus memperkaya pemahaman bahwa kehidupan multikultural tidak hanya berkaitan dengan pengakuan terhadap perbedaan, tetapi juga dengan kemampuan membangun hubungan dan kepentingan bersama di tengah keberagaman.
Dari ruang perdagangan yang mempertemukan masyarakat lintas etnis, Pasar Bersehati memberikan pelajaran bahwa integrasi dapat tumbuh melalui interaksi yang sederhana namun berlangsung terus-menerus. Di tempat inilah mahasiswa PPKn UNG mempelajari bagaimana keberagaman menjadi bagian dari kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat, sekaligus menemukan konteks nyata bagi nilai-nilai kewarganegaraan yang selama ini dipelajari di bangku kuliah

