
ihk.fis.ung.ac.id-Keberagaman agama tidak hanya menjadi bagian dari konsep yang dipelajari di ruang perkuliahan, tetapi juga merupakan realitas sosial yang dapat diamati secara langsung dalam kehidupan masyarakat. Hal inilah yang mendorong mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas Negeri Gorontalo (UNG), melaksanakan kegiatan Studi Kewargaan Multikultural dengan mengunjungi Masjid Nurul Huda Kauditan II, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.(09/10/2026)
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran lapangan untuk memahami dinamika kehidupan masyarakat Muslim sebagai kelompok minoritas di tengah lingkungan sosial yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Mahasiswa diarahkan untuk mencermati bagaimana perkembangan kehidupan beragama pada era modern berlangsung dalam masyarakat yang memiliki perbedaan identitas keagamaan, sekaligus bagaimana nilai toleransi, komunikasi sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman menjadi bagian dari kehidupan kewargaan.
Masjid Nurul Huda Kauditan II menjadi salah satu ruang pembelajaran yang menarik karena keberadaannya merepresentasikan kehidupan keagamaan umat Islam dalam lingkungan masyarakat yang plural. Melalui kunjungan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melihat bagaimana rumah ibadah tidak hanya memiliki fungsi spiritual, tetapi juga berperan sebagai ruang sosial dalam mempertahankan identitas keagamaan, membangun solidaritas, dan memperkuat hubungan antarmasyarakat.
Dalam konteks modernisasi kehidupan beragama, mahasiswa diajak memahami bahwa perkembangan zaman tidak selalu menghilangkan identitas keagamaan suatu kelompok. Sebaliknya, modernisasi dapat menghadirkan ruang penyesuaian dalam praktik kehidupan sosial, pola komunikasi, serta cara masyarakat membangun hubungan lintas agama tanpa harus meninggalkan keyakinan masing-masing.
Salah satu mahasiswa PPKn UNG, Albayun Rafianto, memandang bahwa kegiatan tersebut memberikan perspektif berbeda dalam memahami multikulturalisme. Menurutnya, kehidupan masyarakat minoritas beragama menjadi aspek penting untuk dipelajari karena menunjukkan bagaimana identitas keagamaan dapat dipertahankan di tengah lingkungan sosial yang berbeda.
“Melalui kunjungan ini, kami belajar bahwa menjadi kelompok minoritas bukan berarti harus kehilangan identitas keagamaan. Justru yang menarik untuk dipahami adalah bagaimana umat Muslim tetap menjalankan kehidupan beragamanya sekaligus membangun hubungan sosial dengan masyarakat yang berbeda keyakinan. Bagi kami sebagai mahasiswa PPKn, kondisi ini menjadi pembelajaran nyata tentang toleransi dan kewargaan multikultural,” ungkap Albayun.
Sementara itu, dosen pendamping, Nurul Mawahda, S.IP., M.Si., menekankan bahwa studi kewargaan multikultural merupakan pendekatan pembelajaran yang menghubungkan konsep akademik dengan realitas sosial masyarakat. Menurutnya, keberagaman agama perlu dipahami bukan semata-mata dari perbedaan jumlah pemeluk agama, melainkan dari bagaimana hubungan sosial dibangun dan dipertahankan dalam kehidupan bersama.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa modernisasi kehidupan beragama tidak hanya berkaitan dengan perubahan fisik maupun perkembangan teknologi, tetapi juga menyangkut cara masyarakat merespons perbedaan. Kehidupan Muslim sebagai kelompok minoritas di wilayah mayoritas Kristen menjadi konteks yang relevan untuk mengkaji bagaimana identitas keagamaan, toleransi, dan hubungan sosial lintas agama berlangsung dalam masyarakat multikultural,” jelas Nurul.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pengalaman lapangan semacam ini penting bagi mahasiswa PPKn sebagai calon pendidik kewarganegaraan. Pembelajaran multikultural tidak cukup berhenti pada pemahaman tentang keberagaman, tetapi perlu diarahkan pada kemampuan membaca realitas sosial secara kritis, menghargai perbedaan, serta mengembangkan sikap kewargaan yang inklusif.
Kunjungan ke Masjid Nurul Huda Kauditan II juga memberikan ruang refleksi bagi mahasiswa mengenai kedudukan Pancasila sebagai landasan kehidupan masyarakat yang beragam. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, dan persatuan memperoleh konteks pembelajaran yang lebih konkret ketika mahasiswa berhadapan langsung dengan kehidupan sosial masyarakat yang memiliki latar belakang agama berbeda.
Melalui kegiatan Studi Kewargaan Multikultural ini, mahasiswa PPKn UNG diharapkan mampu mengembangkan pemahaman bahwa multikulturalisme bukan sekadar pengakuan terhadap keberagaman, melainkan kemampuan untuk hidup bersama, menjaga identitas, dan membangun hubungan sosial yang saling menghormati di tengah perbedaan.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya menjadikan masyarakat sebagai sumber belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami toleransi sebagai konsep normatif, tetapi juga mampu mengkajinya sebagai praktik kehidupan kewargaan dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.


