Belajar Nasionalisme dari Tanah Pengasingan, Mahasiswa PPKn UNG Telusuri Jejak Perjuangan dan Kebhinekaan di Makam Tuanku Imam Bonjol

Oleh: Intan Tiara Kartika . 9 Oktober 2026 . 10:58:47

ihk.fis.ung.ac.id-Semangat nasionalisme tidak hanya diwariskan melalui catatan sejarah, tetapi juga hidup dalam ingatan kolektif dan kepedulian masyarakat yang terus merawat jejak perjuangan para pahlawan bangsa. Nilai inilah yang menjadi fokus pembelajaran mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo, melalui kunjungan edukatif ke Makam Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol di Desa Lotta, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, dalam rangkaian agenda Studi Kewargaan Multikultural di Kota Manado. (09/10/2026)

Mengangkat tema “Nilai Perjuangan dan Gotong Royong Masyarakat dalam Merawat Makam Pahlawan: Simbol Kebhinekaan dan Nasionalisme Lintas Agama”, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana warisan perjuangan bangsa dapat melampaui batas identitas etnis, agama, dan daerah.

Kunjungan tersebut tidak sekadar diarahkan untuk mengenal perjalanan sejarah Tuanku Imam Bonjol sebagai salah satu tokoh penting dalam Perang Padri, tetapi juga untuk menelaah makna sosial dari keberadaan makam seorang pahlawan asal Minangkabau yang berada di tengah masyarakat Minahasa dengan latar belakang sosial dan keagamaan yang beragam.

Keberadaan makam Tuanku Imam Bonjol di tanah Minahasa menyimpan pesan kebangsaan yang mendalam. Sosok pejuang Muslim dari Sumatera Barat yang menghabiskan masa pengasingannya di Sulawesi Utara menjadi bagian dari memori sejarah masyarakat setempat. Dalam konteks kewargaan multikultural, situs bersejarah ini menghadirkan pemahaman bahwa penghormatan terhadap perjuangan bangsa tidak dibatasi oleh kesamaan agama maupun asal-usul kedaerahan.

Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa diarahkan untuk mengamati nilai gotong royong, kepedulian sosial, serta peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan situs sejarah sebagai bagian dari tanggung jawab kewargaan. Pemeliharaan makam pahlawan dipahami bukan semata-mata sebagai aktivitas pelestarian fisik, melainkan juga sebagai bentuk pewarisan nilai perjuangan, penghormatan terhadap sejarah, dan penguatan solidaritas kebangsaan lintas generasi.

Salah satu mahasiswa PPKn FIS UNG, Rifki, memandang bahwa keberadaan makam Tuanku Imam Bonjol di Minahasa memberikan perspektif penting mengenai hubungan antara sejarah perjuangan dan praktik kebhinekaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Menurut Rifki, kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa nasionalisme tidak cukup dimaknai sebagai kebanggaan terhadap simbol negara, tetapi harus diwujudkan melalui kesediaan masyarakat untuk menghormati sejarah bersama, sekalipun tokoh yang dikenang memiliki latar belakang agama dan budaya yang berbeda.

“Bagi saya, hal paling bermakna dari kunjungan ini adalah memahami bahwa perjuangan seorang pahlawan tidak hanya menjadi milik daerah asalnya, tetapi merupakan warisan seluruh bangsa Indonesia. Tuanku Imam Bonjol berasal dari Minangkabau dan merupakan tokoh Muslim, sementara makamnya berada di tengah masyarakat Minahasa yang memiliki keberagaman identitas keagamaan dan budaya. Di sinilah kita dapat memahami bahwa nasionalisme sesungguhnya melampaui perbedaan identitas. Kepedulian terhadap warisan sejarah menjadi bentuk nyata bagaimana nilai kebhinekaan dapat dipertahankan dalam kehidupan masyarakat,” ungkap Rifki.

Lebih lanjut, Rifki menilai bahwa gotong royong dalam menjaga situs sejarah memiliki makna kewargaan yang lebih luas, karena mencerminkan kesadaran bahwa merawat peninggalan perjuangan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya kewajiban pemerintah atau kelompok masyarakat tertentu.

“Gotong royong dalam merawat makam pahlawan harus dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab kewarganegaraan. Ketika masyarakat mampu menjaga warisan perjuangan tanpa mempersoalkan perbedaan agama dan asal daerah, sesungguhnya mereka sedang mempraktikkan nilai persatuan Indonesia. Ini menjadi pelajaran penting bagi kami sebagai calon pendidik PPKn bahwa toleransi dan nasionalisme tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus diperlihatkan melalui praktik kehidupan sosial,” tambahnya.

Dari perspektif akademik, kunjungan ini mempertemukan tiga dimensi penting dalam kajian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, yakni memori kolektif perjuangan bangsa, solidaritas sosial lintas identitas, dan tanggung jawab warga negara dalam melestarikan warisan sejarah. Ketiganya menjadi landasan untuk memahami bahwa kebhinekaan tidak berhenti pada pengakuan terhadap perbedaan, melainkan membutuhkan tindakan nyata yang memperkuat rasa memiliki terhadap identitas kebangsaan.

Kegiatan ini sekaligus memperluas cara pandang mahasiswa mengenai nasionalisme Indonesia yang tumbuh melalui pengalaman sejarah lintas wilayah. Perjalanan hidup Tuanku Imam Bonjol dari Minangkabau hingga pengasingannya di Minahasa memperlihatkan bagaimana sejarah nasional terhubung dengan berbagai ruang sosial dan budaya di Nusantara.

Melalui agenda Studi Kewargaan Multikultural, mahasiswa PPKn FIS UNG diharapkan mampu mengembangkan kepekaan historis, kesadaran multikultural, serta kemampuan menginterpretasikan nilai-nilai Pancasila berdasarkan realitas kehidupan masyarakat. Pengalaman lapangan tersebut menjadi bekal penting dalam membangun pembelajaran kewarganegaraan yang tidak hanya menekankan pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial.

Kunjungan ke Makam Tuanku Imam Bonjol pada akhirnya menegaskan satu pesan kebangsaan: perjuangan boleh lahir dari tanah dan identitas yang berbeda, tetapi penghormatan terhadap pengorbanan para pahlawan merupakan tanggung jawab seluruh anak bangsa. Di tengah keberagaman Indonesia, merawat sejarah bersama adalah salah satu cara merawat persatuan.

Agenda